Rumahku Syurgaku

Siapa sih yang tidak ingin menjadikan rumahnya sebagai surga? setiap orang yang berakal tentu menginginkan ketentraman tercipta dalam rumah tangganya. Seorang suami yang sibuk dengan tugas dan pekerjaannya di luar rumah senantiasa bersemangat, karena dia menyadari bahwa rumahnya menjanjikan kedamaian.

Rumahku_Surgaku 2

Seorang ibu akan bekerja di dalam rumah dengan senang hati kalau dia membayangkan kasih sayang suami dan gelak tawa anak-anaknya.seorang anak pun yang hari-harinya dituntut dengan bermacam-macam pelajaran di sekolah tidak akan merasa bosan kalau melihat keharmonisan kedua orang tua dan kasih sayangnya. Sehingga semua yang berada di rumah dapat menjalani hidup dengan baik dan tentram hingga masa maut menjemputnya. Dari itulah Allah SWT menjadikan rumah tangga sebagai salah satu dari tanda keagungannya. Allah SWT berfirman: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaannya ia menjadikan kalian berpasang-pasangan dari jenis kalian sendiri, agar kalian merasa tentram dengannya dan menciptakan rasa kasih sayang di antara kalian, sesunguhnya semua ini merupakan bukti-bukti bagi kaum yang berfikir”. (Q.S. ar-Ruum: 2) di saat tercipta keluarga yang harmonis maka akan tercipta pula lingkungan yang harmonis, masyarakat akan baik apabila keluarga yang merupakan komponen dari masyarakat baik. Bila masyarakat baik maka bangsa pula akan baik, sedangkan baiknya suatu negara tergantung kepada baik dan tidaknya bangsa tersebut. Sebaliknya apabila kedamaian dan kebahagiaan rumah tangga tidak tercipta maka suami akan berusaha mencarinya di luar rumah, istri juga tidak mau kalah dengan suaminya, dia akan mencari kesenangan yang hal itu merupakan kebutuhan setiap manusia, seperti; pergi ke pusat perbelanjaan (Mall) bersama rekan-rekannya, sehingga membuat tugas-tugas seorang ibu terbengkalai. Si anak pun tidak dapat belajar semaksimal mungkin sebab dia tidak menemukan perhatian dan kasih sayang yang dia butuhkan. Di sekolah dia akan murung begitu pula halnya di luar sekolah, dia hanya berpikir mencari kesenangan yang diinginkannya.

Dengan demikian, keluarga akan rusak dan nantinya juga akan mempengaruhi terhadap kerusakan bangsa dan negara.

Islam menjaga keharmonisan keluarga

Pada hakikatnya perkawinan yang merupakan awal dari sebuah keluarga adalah sarana di dalam memenuhi kebutuhan biologis, jiwa, logika dan jasmani. Yang di dalamnya terdapat kasih sayang, ketentraman, saling pengertian, dan menanggung pahit-manisnya hidup bersama. Dan oleh sebab itulah, seorang wanita rela berpisah dan lepas dari sanak familinya karena dia meyakini bahwa hubungannya dengan suami yang sebelumnya asing baginya merupakan hubungan yang terkuat dan hidup bersamanya merupakan kehidupan yang terindah.

Bukan hanya itu, kenikmatan hingga di surga tidak akan sempurna tanpa adanya seorang istri dan keturunan. Sebagaimana Allah telah mengabarkan kepada kita dalam firman-firman-Nya. Dia berfirman: ”Dan kami katakan; “Wahai Adam hunilah surga untuk engkau dan istrimu”. (Q.S. al-Baqarah: 35).

Istri salehah merupakan nikmat Allah yang agung setelah nikmat takwa, tidak heran kalau Rasulullah Saw bersabda mengenai istri salehah. “Tidak ada sesuatu yang berfaidah bagi orang mukmin setelah takwanya kepada Allah SWT melebihi istri salehah. Bila diperintah mentaatinya, bila dipandang menyenangkannya, Bila berjanji memenuhinya, dan apabila suaminya keluar bisa menjaga diri dan harta suaminya”. (H.R. Ibnu Majah).

Rasulullah Saw juga mengajarkan dan mencontohkan kepada kita untuk memberikan kasih sayang kepada istri, sebagaimana sabdanya: ”Sebaik-baik kalian adalah yang berbuat baik kepada keluarganya (istrinya) dan aku adalah orang yang paling berbuat baik kepada istrinya”. (H.R. at-Tirmidzi). Kita lihat bagaimana kasih sayang dan kesetian Rasulullah Saw kepada sayidah Khadijah RA hingga di saat beliau menyebut-nyebut kebaikan sayidah Khadijah RA setelah wafatnya sayidah Aisyah RA cemburu dan berkata:”Bukankah Khadijah RA adalah seorang janda yang saat ini Allah telah menggantikan untukmu yang lebih baik darinya”. Rasulullah Saw menjawab: “Tidak, demi Allah, Allah tidak mengganti untukku yang lebih baik darinya. Dia beriman kepadaku di saat orang kufur kepadaku, dia mempercayaiku di saat orang-orang mendustaiku, dia mengorbankan hartanya untukku di saat orang-orang memboikot dan Allah memberikan anak darinya yang tidak terdapat kepada wanita-wanita lain”. Hal ini karena Rasulullah Saw begitu merasakan kasih sayang, pengorbanan, dan pengertian Sayidah Khadijah Kepada istri yang lain pun Rasulullah Saw telah memberikan keberhasilannya dalam menciptakan keluarga yang harmonis, perhatikan kasih sayangnya kepada  Sayidah Aisyah RA, Beliau membiarkan kebebasan kepada Sayidah Aisyah untuk bermain dengan anak-anak wanita Anshar, kadang-kadang beliau berbaring di pangkuannya sambil membaca al-Quran, menciumnya meski beliau dalam keadaan berpuasa dan mengajaknya berlomba lari dengan lemah-lembut dan kasih sayang.

Dan untuk menciptakan keharmonisan yang abadi  ulama memberi lima pondasi dalam berkeluarga yaitu: Takwa, keadilan, pengertian, menyadari keutamaan (fadl) dan keadilan.

Kiat-kiat menjaga dan memperkokoh rumah tangga menurut Islam

Tidak sedikit orang yang gagal dalam mengurangi bahtera rumah tangga, baik karena ketidak mampuan seorang suami dalam menahkodai rumah tangganya di saat gelombang menghantamnya atau karena egoisnya seorang istri merasa mampu mengatur rumah tangganya. Yang jelas keberhasilan dan kegagalan  berumah-tangga merupakan tanggung jawab bersama baik itu suami, istri dan anak-anak. Dari itu Rasulullah Saw bersabda: ”Masing-masing dari kalian mempunyai tanggung jawab yang akan diminta pertanggungjawabannya.Seorang pemimpin mempunyai tanggung jawab, seorang suami mempunyai tanggung jawab kepada keluarganya, seorang istri mempunyai tanggung jawab hanya kepada suami dan anak-anaknya dan masing-masing mempunyai tanggung jawab yang akan diminta pertanggungjawabannya.”

Islam memberi beberapa cara untuk menjaga keharmonisan berumah-tangga. Dr. Nasir Ahmad telah memberi beberapa cara dalam menjaga rumah tangga. Sebagaimana yang ditulisnya dalam majalah Alwa al-Islami edisi Jumadil Akhir 1425 H.

1.Taat dan takwa kepada Allah, jadikanlah sebagai tujuan utama karena dengan takwa ketenangan dan kedamaian rumah tangga akan tercapai, sebab seseorang yang bertakwa telah memenuhi tujuan terciptanya, yang tentu Sang pencipta tidak akan menyia-nyiakannya: ”Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk ibadah.” (Q.S. adz-Dzariyat: 56) Dengan demikian wajib bagi pasangan suami istri mentaati dan menerapkan hukum-hukum Allah adalah  rumah tangganya, Allah berfirman:“Perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan sholat dan bersabarlah atasnya.” (Q.S. Thaha:132), Allah Ta’ala juga berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. (Q.S. at-Tahrim: 60 )

2.Budi pekerti yang baik, yang merupakan wasiat Nabi Saw seperti dalam sabdanya: “orang yang  paling sempurna imannya adalah yang berbuat baik kepada istrinya”.

3.Kepemimpinan seorang suami bukan berarti intimidasi dan menyia-nyiakan kehormatan istri. Allah SWT berfirman: “kaum lelaki adalah pemimpin kaum wanita dengan apa yang Allah anugerahkan kepada sebagian dari mereka atas sebagian yang lain, dan dengan apa yang dibelanjakan dari harta mereka.” (Q.S. an-Nisaa’: 30), sedangkan seorang istri sebagai pelaksana tarbiah dalam rumah tangga merupakan pejuang rumah tangga yang notabanenya adalah unsur utama bagi masyarakat.

4.Menciptakan suasana pergaulan dengan istri dengan pergaulan yang baik dan adil, Allah berfirman: “Gaulilah mereka (istri-istrimu) dengan baik“. (Q.S. an-Nisaa’: 19)

adil adalah meletakkan kewajiban dan hak. Perhatikanlah sabda Rasulullah Saw: “Berilah makanan di saat kau makan, berilah pakaian di saat kau memakai pakaian, jangan memukul wajah, jangan mencaci dan jangan kau pisahi kecuali dalam rumah.” (HR Abu Dawud). Ibnu Abbas mencontohkan keadilan ini dengan berhias untuk istrinya, sebagaimana dia senang ketika sang istri berhias untuk dirinya. Bukan hanya itu Allah SWT memerintahkan untuk tetap berlaku adil kepada istri, meskipun dalam keadaan yang sangat sulit yaitu perceraian. Allah SWT berfirman: “Apabila sudah tiba masanya tetaplah bersamanya atau ceraikanlah mereka dengan baik.”

5.Cemburu yang beralasan adalah cemburu yang terpuji. Kecemburuan sang suami atau istri dengan dasar-dasar yang jelas merupakan bukti kasih sayang dan ketakwaan, sedangkan cemburu buta dan buruk sangka hanyalah akan menggoyang ketenangan rumah tangga.

6.Menanamkan  saling pengertian dan memaklumi kekurangan masing-masing, seorang istri atau suami yang menyadari bahwa tidak ada manusia yang tidak lepas dari kesalahan adalah istri atau suami yang ideal, karena dengan semua itulah akan terwujud pasangan yang serasi dan saling memahami.

Apa bila semua itu terwujud, maka pasangan rumah tangga akan langgeng dan bahagia. Berkah dan Ridha Allah pun akan dicapai.

By Habib Hamid al-Qadri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*